Senin, 26 Agustus 2013

MR. ICE CREAM

MR.ICE CREAM Ini sudah mangkuk es krim kedua yangaku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayantua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari Koran pagi harinyakearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedanghujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkukkedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yangketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli. Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatutitik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupukmataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hatiini campur aduk dan sedikit sesak. Me-rewind semua rutinitas gila makan es krimini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya. *** 3 tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikitberantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentangrasa es krim yang barusan aku cicipi. “Gimana?” tatapnya penasaran, air mukanya mulai serius melihat ekspresiku yangmengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan. “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikanSesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokanlagaku seperti tester sejati. “Enaak !!” Seru ku. Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yangmenipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya. Ya, Dialah Stefan. Stef dan Aku pertama kali bertemu di laboratorium praktikumkimia dasar, Dia yang mengembalikan modul praktikumku yang tertinggal dilaboratorium. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus,usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku. Stef mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu iasering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalannya Stef sering mentaktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secoronges krim di kantin kampus-lah pertemanan kami semakin akrab. Stef dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilangterbalik, Stef adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis.Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serialkartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan? Mr. ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi inibisa di bilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu,Stef mengambil Cooking Class khusus membuat pastry. Stef termasuk golongancowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Stef tidak bisa ditebak sertapenuh kejutan. Sore itu, Stef dengan sengaja menculikku dari kampus, Stef mengajakkuberkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonialbelanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interiorkedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasirdan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesinkasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapatroti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alatpenimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semuatua. Stef bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalo dia sering makan eskrim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannyaterhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekalimakan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisamengobati patah hati dan bad mood. Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengansetia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan atau ia ceritakan. “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya akutertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah danmenyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu denganes krim tutti fruiti-ku. “Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawakecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim. “ini Enaaak, coba deh Stef” sambil menyodorkan roti isi eskrim kepadanyasebagai upaya mengkamufalse salah tingkahku barusan. Stef lantas mencobamengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalo itu kombinasiyang enak. “yeee, enak kan, sekarang Stef ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Stefmenjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang. Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Stef seolah pasangankekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kamitidak pacaran, tepatnya Stef punya pacar. Stef berpacaran dengan Yuki. MengenaiStef dan Yuki aku tak tahu banyak karena Stef jarang sekali bercerita tentanghubungan mereka, setahuku mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk dibangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, “Jeng, kita pulang yuk, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Stefkepadaku sekaligus mengingatkan. “Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikutipunggung Stef yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. *** 2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama. Stef tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemejaabu-abu bermotif kotak-kotaknya kali ini rambutnya terikat rapih. “Ta daaaa, Happy Birth Day” Stef menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku takmenyangka. Sebuah surprise !! Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Stef membuatkanku kue ulangtahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan Ajeng” diatas kepingancokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin denganangka kembar dua-puluh-dua. “Jangan lupa berdoa dan make wish ya” Stef tersenyum Simpul lagi. Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuatpermohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Stefdan es Krim tentunya. “Rio, belum telepon juga?” Stef bertanya singkat. Rio? Kenapa Stef nanya Rio lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Rioadalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu, jadi sekarang dia sudah menyandanggelar mantan pacar. Rio dan Aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kamimenjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh,Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Rio yangtidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadibahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secarabaik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan. “Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku. Puh, tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmaties krim dan kuenya lagi. “yang penting…” Ujar Stef. Hening sejenak. Aku menunggu Stef melanjutkankalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum. Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja,itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Stef. Stef selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selaluada untukku, diberikan surprise seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku,ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial sepertiini khusus untukku hanya seorang teman seperti Stef yang melakukannya. Teman?Lalu bagaimana dengan Yuki? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahudetail bagaimana Stef memperlakukan Yuki? Bukan kah sebelumnya aku tak pernahpeduli? “Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Stef membangunkan ku dari lamunan akibatpertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku. “Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil. “Pelit” Stef pura-pura ngambek. “Anyway Stef, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malamini. “Any time, Ajeng” balas Stef. Tersenyum simpul. Malam itu diumur ku yang bertambah, Aku menyadari seorang duduk dihadapankuseperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasamanis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatuitu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung denganrumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itutidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak. *** Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menadakanbesarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dangedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingiaroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubahsedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia. Dua jam yang lalu, aku dan Stef duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah taksepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satutahun yang lalu, Stef terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit punsenyum didalam air muka Stef, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkukdan cuaca di luar sana. “Kenapa gak ada kabar Jeng?” Stef menatapku serius. Nada suaranya dingin. Aku tak sanggup memandang Stef, hanya tertunduk dan diam, lidah ini kelu untukberucap memberi alasan yang sebenarnya. “Aku sibuk Stef” Aku berbohong. “Maaf Stef, aku memang keterlaluan” ucapkusekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar. Setelah mendengar kata maaf itu Stef langsung mehenyakan punggungnya kesandarankursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yanghanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun sepertimenghilang di telan bumi. Aku tahu Stef pasti marah hebat kepadaku, tapisemenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Stef terasa bias,tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankankepura-puraanku di depan Stef yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengansikap Stef yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beripupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akanterus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakitdalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itudatang aku tak menyiakan nya. “Tapi kau baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang. Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak bolehmenangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembaliterbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahuperasaan Stef sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Stef selalubaik dan memaafkanku yang bertindak bodoh. “Lalu bagaimana denganmu Stef?” ucapku terbata. Stef tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh danmembingungkan bagi Stef sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnyasepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Stefmenyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demisedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini punmencair. *** Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkankerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Stef. Scenepotongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikanfokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebaldari kertas, berwarna merah, pemberian Stef dua jam yang lalu. Entahlah sudah berapuluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah lahsudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagaiteman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpaperasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkandiriku sendiri? Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untukmendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapatpemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Stef kepadaku, diaselalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yangterlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya danmalah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Stef terluka. Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakankerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju mejakasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkanterimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur adukdan terasa sesak. Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkankota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini,menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Stef dan Yuki. aku akanhadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauhapapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi,yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan. Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini Stef, dan waktu yangakan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara,Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan? -The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar